Jajal ESP yang Diklaim Mampu Menekan Angka Kecelakaan Mobil



[ad_1]

JAKARTA, KOMPAS.com – Fitur electronic stability program (ESP) menjadi salah satu teknologi keselamatan aktif yang sudah umum dijumpai pada mobil baru. ESP sendiri memiliki fungsi membantu menjaga kendaraan tetap terkontrol saat pengendaraan sedang melaju pada kecepatan tertentu dan dihadapi kondisi darurat yang membutuhkan reaksi mendadak.

Melalui sensor, semua hal yang dilakukan seperti bantingan setir, menekan pedal gas dan melakukan hard braking akan dimonitor dan dikirim ke ECU. Setelah itu, sistem akan mengoreksi dan mendeteksi pengendalian untuk meminimalkan slip sekaligus gejala oversteer atau understeer, karena EPS terkoneksi dengan perangkat lain, yakni anti-lock braking system (ABS), electronic brake force distribution (EBD), dan torque control system (TCS).

Director Bosch Indonesia Andrew Powell, mengatakan, bila menurut fakta sebesar 80 persen kecelakaan fatal akibat mobil yang tergelincir dapat hindari dengan ESP.

Baca juga: Ini Cara Kerja Fitur ESP dan Hill Hold Control di Ertiga Terbaru

“Bila semua kendaraan dilengkapi ESP, 80 persen kecelakaan saat dalam kondisi darurat dan akibat tergelincir atau slip dapat dihindari. ESP menjadi perangkat aktif yang akan bekerja di segala permukaan jalan, sensor pada ESP akan melakukan pengecekan hingga 25 kali per detik untuk mengkoreksi apakah mobil sudah melaju sesuai dengan kontrol dari pengemudi,” ucap Andrew kepada media di Bridgestone Indonesia Proving Ground, Karawang, Jawa Barat, Selasa (13/11/2018).

Bosch juga mengajak beberapa media untuk merasakan perbedaan langsung mengendarai mobil tanpa dan dengan ESP. Technical Spesialist Chbadis System Control Bosch Australia Ken Humphreys, menjelaskan bila ESP memiliki kerja yang efektif untuk mengkoreksi setiap bantingan setier, pengereman, sampai putaran tenaga ketika dihadapi situasi darurat.

Ilustrasi kerja ESP pada mobil Ilustrasi kerja ESP pada mobil

“ESP bisa menintervensi dan memerintahkan ke sistem pengereman seperti ABS ketika kondisi darurat untuk melakukan pengereman, mengurangi torsi mesin, sampai melakukan koreksi pada laju mobil agar tetap bisa dikendalikan pengemudi melaui sensor-sensor yang ada,” ucap Ken di waktu dan lokasi yang sama.

Pegetesan awal, Ken melepas modul perangkat ESP pada mobil dan mengajak Kompas.com untuk melesat di kecepatan 80 kpj. Sesampainya pada titik tertentu, Ken langsung membanting kemudi ke arah kiri-kanan untuk mengambarkan situasi darurat yang membuat mobil tergelincir dan susah dikendalikan.

Baca juga: Belajar Perbedaan ABS, BA, dan EBD pada Mobil

Mobil pun sempat bergerak liar, dan berputar hingga 180 derajat sebelum akhirnya bisa berhenti setelah Ken melakukan hard braking. Percobaan kedua, Ken langsung memasang modul ESP dan berkendara di atas 100 kpj untuk melakukan aksi serupa.

Pada pengetesan kali ini, bantingan mobil memang masih terasa liar bagi penumpang, namun kemudi lebih mudah untuk dikendalikan. Suara derungan ban saat bersentuhan dengan aspal pun cukup keras terdengar hingga kabin dalam mobil.

Jajal fitur ESP pada mobil Jajal fitur ESP pada mobil

Ken menjelaskan hal itu terjadi karena ESP memerintahkan ABS untuk melakukan pengereman ke masing-masing roda untuk menghindari slip sehingga kendali mobil tetap terjaga.

“ESP meminta ABS untuk bekerja maksimal saat mobil dalam kondisi darurat, proses kerja pengereman dilakukan ABS berjalan ketika mobil berada dalam posisi yang tidak normal. Kalau kita tadi mendengar derungan ban yang cukup keras itu karena memang tekanan dari sistem untuk menjaga mobil tetap stabil, serta peran ABS untuk mereduksi antara kecepatan roda dan bodi pada mobil,” ucapnya.




[ad_2]
Source link