Sri Mulyani Klaim CAD Bengkak karena Ekonomi Tumbuh Tinggi



[ad_1]

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2018 tak lepas dari meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan pada periode Juli – September 2018 melebar dari US$8 miliar atau 3,02 persen terhadap PDB pada kuartal II 2018 menjadi US$8,8 miliar atau 3,37 persen terhadap PDB.

Pada periode yang sama, ekonomi tumbuh mencapai 5,17 persen secara tahunan. Pertumbuhan ekonomi tersebut sebenarnya melambat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 5,27 persen, tetapi masih lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,06 persen.

“Di satu sisi, kami senang bahwa pertumbuhan ekonomi kita tinggi, tapi konsekuensinya permintaan terhadap barang-barang impor juga meningkat,” ujar Sri Mulyani usai menghadiri rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (9/11).

Menurut Sri Mulyani, pada kondisi normal saat aliran masuk sudah pulih melebarnya defisit transaksi berjalan tidak menjadi masalah. Defisit dapat dibiayai masuknya aliran modal sehingga tak menganggu neraca pembayaran dan tidak mengorbankan pertumbuhan ekonomi terlalu besar.

Pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan sejumlah langkah untuk menekan defisit transaksi berjalan, mulai dari pembatasan impor hingga kebijakan B20 pada awal September.

Saat ini, menurut Sri Mulyani, pemerintah akan terus menelaah data dan menyesuaikan kebijakan secara fleksibel sesuai kondisi .

“Oleh karena itu, tiap bulan kami harus melakukan review saja terhadap statistiknya, mempelajari berbagai banyaknya permintaan barang-barang yang diimpor itu baik yang migas maupun nonmigas,” ujarnya.

Sebagai catatan, melebarnya defisit transaksi berjalan telah berimbas pada membengkaknya defisit neraca pembayaran Indonesia hingga kuartal III 2018 dari US$4,3 miliar pada kuartal II 2018 menjadi menjadi US$4,4 miliar. (sfr/agi)



[ad_2]
Source link